Minggu, 12 Desember 2010

Mengapa Wanita Banyak Menghuni Neraka?

Mengapa Wanita Banyak Menghuni Neraka?

Senin, 06/12/2010 09:41 WIB

Sebuah pernyataan yang cukup lazim terdengar di telinga kita bahwa kebanyakan penduduk neraka dihuni oleh para wanita.
Berdasarkan Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Aku melihat ke dalam surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.”
Muncul pertanyaan di benak kita, apa yang menyebabkan kebanyakan wanita menjadi penduduk neraka? Dalam sebuah kisah ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka.
Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radhiyallahu 'anhum, “ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya, “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma)
Dalam hadits lainnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda, “ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu)
Bagi para muslimah atau umumnya wanita ketika membaca atau mendengar hadist-hadist di atas sontak naik darah dan tidak bisa menerima sepenuhnya. Minimal akan berhujjah bahwasanya wanita bisa berbuat demikian karena ada penyebabnya, bukan tiba-tiba ingin berlaku demikian. Siapapun kalau ditanya tentu saja tidak ada yang ingin masuk neraka apalagi diklaim akan masuk neraka. Naudzubillah mindzalik!
Memang, berlayar mengarungi bahterah rumah tangga itu tidak semudah yang dibayangkan. Seorang muslimah tepatnya seorang istri, tidak saja harus membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup tapi juga mutlak dibutuhkan mental baja dan manajemen yang baik dalam mengelola gelombang kehidupan beserta segala pernak pernik yang menyertainya. Ketika urusan rumah tangga tidak pernah ada habisnya, anak-anak rewel dan kondisi fisik sedang tidak fit, kemudian suami pulang kerja minta dilayani tanpa mau perduli dengan kondisi kita, biasanya, dalam kondisi seperti ini tidak banyak wanita yang tetap mampu mengendalikan kesabarannya. Manusiawi bukan? Belum tentu!Justru dalam situasi seperti inilah keimanan dan kesabaran kita akan teruji. Apakah kita masih bisa mengeluarkan kata-kata manis sekaligus rona muka penuh dengan senyum ketulusan? Sulit memang! Tapi sulit bukan berarti tidak bisa!
Jika kita cermati hadist diatas secara seksama, maka akan kita dapati beberapa sebab mengapa wanita bisa menjadi penduduk minoritas di surga, di antaranya :
Pertama, kufur terhadap kebaikan-kebaikan suami. Sebuah fenomena yang sering kita saksikan, seorang istri yang mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya dalam waktu yang panjang hanya karena satu hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal seharusnya seorang istri selalu bersyukur terhadap apa-apa yang diberikan suaminya, karena Allah SWT tidak akan melihat istri yang seperti ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam,“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr).
Kedua, durhaka terhadap suami. Durhaka yang sering dilakukan seorang istri adalah durhaka dalam ucapan dan perbuatan. Wujud durhaka dalam ucapan di antaranya ketika seorang istri membicarakan keburukan-keburukan suaminya kepada teman-teman atau keluarganya tanpa alasan yang dibenarkan oleh syar’i. Sedangkan durhaka dalam perbuatan diantaranya bersikap kasar atau menampakkan muka yang masam ketika memenuhi panggilan suami, tidak mau melayani suami dengan alasan yang tidak syar’i, pergi atau ke luar rumah tanpa izin suami, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, atau sebaliknya enggan berdandan dan mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu.
Jika demikian keadaannya maka sungguh merugi wanita-wanita yang kufur dan durhaka terhadap suaminya. Mereka lebih memilih jalan ke neraka daripada surga karena mengikuti hawa nafsu belaka.
Jalan ke surga memang tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga nan indah, melainkan melalui rintangan-rintangan yang berat dan terjal. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang sabar menempuhnya.
Sementara, jalan menuju ke neraka penuh dengan keindahan yang menggoda dan setiap manusia sangat tertarik untuk melaluinya. Tetapi, sadarlah bahwa di ujung jalan ini, neraka telah menyambut dengan beragam siksa-Nya.
Lalu, bagaimana caranya agar para wanita atau para istri tidak terperosok ke dalam neraka?
Jangan pesimis, masih banyak cara dan tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri jika kita ingin menjadi penduduk minoritas di surga.
Masih ingat kan, ketika rasulullah bersabda dalam sebuah hadist shahih jami’, “Perempuan apabila shalat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya, maka masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki.”
Mengacu dari hadist di atas, mari kita berlomba menegakkan sholat dengan lebih khusu’, memperbayak sholat-sholat sunah karena sholat yang benar dan khusu’ bisa membentengi diri kita dari perbuatan yang munkar. Selain puasa/shaum wajib di bulan romadhon, latihlah diri untuk terbiasa melakukan shaum sunah. Hiasilah diri dengan sabar dalam ketaatan dengan suami dan banyak-banyaklah beristigfar karena istigfar bisa meruntuhkan dosa-dosa kecil yang tidak kita sadari.
Dan juga ada sebuah amalan yang sepele tapi sering terlupakan adalah bershodaqoh (sedekah). Bershodaqohlah dalam keadaan lapang dan sempit karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka.
Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau bersabda, “Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)
Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari adzabnya. Amin. Wallahu’alam.
(Nani Agus, nani_agus2@yahoo.com)
http://www.eramuslim.com/
Perantau Minang di Malaysia
Artikel - Artikel Bebas
Written by Afandri Adya   
Friday, 10 December 2010
ImageAbdul Aziz Ishak, pada tahun 1983 pernah menulis buku berjudul : “Mencari bako”. Konon buku ini ia tulis karena kebanggaannya sebagai orang keturunan Minang yang banyak mencipta peradaban di kedua belah negeri, Indonesia dan Malaysia. Walau menurut adat Minangkabau yang matrilineal itu, Aziz tak “benar-benar sebagai orang Minang”, namun kegalauannya mencari keluarga ayah (bako dalam istilah Minangkabau), mendorongnya untuk menulis buku setebal 155 halaman.

Kamis, 19 November 2009

Gempa Sumatera Barat Dikenang di Inggris

Rabu, 18 November 2009 | 17:33 WIB
LONDON, KOMPAS.com — Gempa 30 September yang menghancurkan Sumatera Barat tidak begitu saja dilupakan masyarakat Indonesia yang berada di Kerajaan Inggris dan Irlandia.

Berbagai cara dilakukan masyarakat Indonesia di sana yang tergabung dalam Indo-Irish untuk mengumpulkan dana bagi korban gempa di Sumatera Barat.

Anggota Indo Irish yang ada di Dublin dengan mengenakan busana tari warna kuning, "ngamen" di pusat pertokoan di tengah Kota Dublin dengan mempertunjukkan tari saman.

"Alhamdullilah kami berhasil mengumpulkan dana sebesar 250 euro," ujar Faisal Yusuf Surati di Dublin, akhir pekan silam.

Pementasan tari saman di Grafton Street, Dublin 2, itu menarik pengunjung daerah pertokoan di kota Dublin.

Menurut Faisal, Indo-Irish juga menggelar acara penggalangan dana yang dibalut dalam acara Malam Budaya Indonesia yang diadakan di restoran Break for the Border, Dublin, Irlandia.

Didukung KBRI London dan Konsul Kehormatan Indonesia di Dublin, kelompok masyarakat Indonesia di Irlandia ini berhasil menghimpun dana sebesar 1.000 euro.

Duta Besar RI untuk Inggris Raya dan Irlandia Yuri Octavian Thamrin menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada seluruh masyarakat Irlandia terhadap kepedulian mereka pada para korban gempa bumi di Sumatera.

Sementara itu, masyarakat Indonesia di Birmingham yang dikomandoi saudagar Minang, Aak Firdaus, bersama sang istri perawat di rumah sakit Birmingham, Sri Dewi, juga menggelar acara pengumpulan dana untuk korban gempa di Sumatera Barat.

Dalam acara charity lunch yang diadakan Oktober lalu di kediamannya di Bournbrook road, Selly Park, Birmingham itu, mereka berhasil mengumpulkan dana 600 poundsterling. Bulan November, Sri Dewi kembali menggelar acara charity dinner.

Bersama masyarakat Indonesia di Birmingham, Sri Dewi kembali menggelar acara charity dinner dengan makanan khusus asal Sumatera Barat.

Pada acara itu, sebanyak 120 bangku dipersiapkan. Adapun harga tiket 10 poundsterling per orang dan 7,50 poundsterling untuk pelajar.

http://oase.kompas.com/read/xml/2009/11/18/17334410/gempa.sumatera.barat.dikenang.di.inggris

Kamis, 12 November 2009

Al-Azhar Bangun 1.000 Rumah "Bangkit Bersama"

PARIAMAN--Lembaga Amil Zakat "Al-Azhar" membangun 1.000 unit rumah "bangkik basamo" (bangkit bersama, red) bagi korban gempa 7,9 skala Richter di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat yang rumahnya rusak berat akibat bencana tersebut.

Dari 1.000 unit yang ditargetkan itu, 60 unit sudah selesai dibangun, 650 unit tengah dalam pembangunan dan sisanya masih menunggu lokasi penerima bantuan ini, kata Arief Rahman Oktavia, Koordinator Masyarakat Muslim Bayumas, di Pariaman, Kamis.

Ia menambahkan, korban penerima bantuan adalah yang memenuhi syarat yakni masih memiliki bahan bangunan berupa kayu dan seng dari puing-puing rumah mereka, punya lahan untuk pembangunan rumah dan mau bekerja sama membangun rumah bangkik basamo tersebut.

Koordinator Masyarakat Muslim Bayumas, salah satu elemen dari Al-Azhar, lebih lanjut mengatakan, "Jadi Al-Azhar tidak membantu seluruhnya dan melakukan pembangunan, tapi dengan kerja sama dan keterlibatan korban sendiri dalam membangun rumahnya."

Rumah bangkik basamo adalah semi permanen dengan luas 6x5 meter terdiri dari dua kamar tidur (masing-masing 3x3 meter) dan satu ruang tamu menyatu dengan raung keluarga/makan.

Rumah dibangun dengan lantai cor semen, dan dinding setinggi 50 centimeter dari lantai adalah susunan bata direkat semen dan ke atasnya bertiang kayu dan dingin anyaman bambu.

Untuk pembangunannya Al-Azhar memberikan bantuan pasir satu mobil pick-up, tiga zak semen, batu bata secukupnya dan lembaran anyaman bambu sesuai kebutuhan. Sedangkan korban menyediakan kayu yang dibutuhkan dan seng dari puing-puing rumahnya yang roboh.

Pelaksanaan pembangunan juga dilakukan bersama oleh relawan Al-Azhar bersama korban dan keluarganya serta masyarakat di lokasi, tambahnya. Tujuan membangun bersama ini, juga untuk membangkitkan kembali semangat para korban dalam membangun rumah tempat tinggalnya yang jauh lebih layak dibandingkan tinggal dalam tenda-tenda beratap terpal.

Hingga saat ini telah 720 korban yang akan menerima bantuan tersebut, 60 rumah diantaranya selesai dibangun dan telah ditempati serta 650 dalam pengerjaan. Korban yang menerima bantuan adalah korban yang rumahnya roboh atau tidak dapat ditempati lagi di Nagari Ulakan, Toboh dan Lubuk Alung serta nagari lainnya di Kabupaten Padang Pariaman.

Salah seorang korban penerima bantuan rumah "bangkik basamo", Rasyidin (66) di nagari Toboh Gadang, menilai rumah bantuan dengan sistem kerja sama ini jauh lebih baik untuk ditempati dibanding di tenda.

Selain itu, rumah tersebut bisa tahan lama hingga belasan tahun sehingga tidak perlu dibuka kembali jika rumah permanen milik korban selesai dibangun, katanya. Kabupaten Padang Pariaman merupakan daerah paling parah terkena dampa gempa 7,9 SR diikuti tanah longsor yang terjadi 30 September 2009.

Menurut Bupati Padang Pariaman, Muslim Kasim, bencana itu menyebabkan 456 korban meninggal dunia dan 192 orang hilang tertimbun tanah longsor dan tidak ditemukan jasadnya.

Kemudian, 59.693 unit rumah warga rusak berat dan sebagian besar di antaranya roboh rata dengan tanah, rusak sedang 16.525 unit rumah dan rusak ringan 15.148 rumah. ant/pur

Sabtu, 24 Oktober 2009

MUI: Umat Islam Harus Proaktif Soal Halal-Haram



By Republika Newsroom
Kamis, 22 Oktober 2009 pukul 15:14:00
JAKARTA--Menanggapi maraknya rumah makan ataupun restoran yang menjual makanan nonhalal, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amin mengatakan, memang tidak ada hukum tertulis yang mewajibkan mereka mencantumkan dengan jelas spesifikasi produk yang mereka jual. Ma'ruf mengimbau, umat Islam sebaiknya kritis meneliti kehalalan suatu produk sebelum mengonsumsinya.

"Masyarakat kita kan heterogen, jadi orang Islamnya yang harus proaktif dalam menyeleksi makanan yang akan dikonsumsi. Sebelum membeli makanan, sebaiknya dilihat dahulu apakah penjualnya mencantumkan label halal," kata Ma'ruf, Kamis (22/10).

Perihal keberadaan penjual makanan non halal yang berbaur dengan makanan halal, Ma'ruf menekankan, yang terpenting jangan sampai tercampur antara produk yang halal dan haram. "Karenanya, harus diperhatikan mengenai mekanisme pengantaran pasokan, pembuangan limbah, hingga sanitasinya," tutur Ma'ruf.

Menurut Ma'ruf, sebenarnya tidak ada batasan minimum usaha rumah makan atau restoran yang wajib mencantumkan label halal yang disertifikasi LPPOM MUI. Ma'ruf menjelaskan, mulai dari rumah makan berskala kecil pun sebaiknya memiliki jaminan halal demi kenyamanan konsumennya. Namun, Ma'ruf memaklumi bila ada rumah makan yang selevel usaha rumahan lantas tidak menggunakan sertifikasi LPPOM. "Yang penting umat Islam hendaknya berhati-hati dan menghindari produk yang diragukan kehalalannya," tukas Ma'ruf. c15/taq

Banyak Restoran Nonhalal yang Tak Jelas


By Republika Newsroom
Kamis, 22 Oktober 2009 pukul 13:01:00
JAKARTA--Restoran maupun warung makan yang menyajikan makanan nonhalal seperti hidangan berbahan dasar daging babi maupun anjing kerap tak mencantumkan informasi tersebut di papan reklame atau muka tokonya. Dari hasil pantauan di lapangan, Kamis (22/10) ditemukan sejumlah warung makan di kawasan Pasarrebo, UKI, Pasargenjing, dan Pulogadung yang hanya mencantumkan kata 'lapo' atau 'panggang karo' di reklamenya. Kondisi yang lebih baik dapat ditemukan di seberang pool Primajasa di sekitar Cawang.

Di sana, deretan toko makanan nonhalal mencantumkan dengan jelas menu yang dijualnya. Misalnya, 'Siangkaan, sedia panggang B1-B2' atau 'Sedia babi panggang'. Maria, pengelola BPK Mbaru Karo di Pasarrebo, mengatakan, pihaknya tidak mencantumkan dengan jelas sajian utama di rumah makan tersebut karena merasa menuliskan kata 'panggang karo' pun sudah cukup. Untuk mengantisipasi pelanggan Muslim yang terlanjur datang karena menyangka rumah makan itu adalah restoran kebanyakan, Maria mengaku pihaknya mengharuskan pelayan menanyakan identitas agama kepada setiap pelanggan yang datang. "Itu sudah menjadi standar pelayanan di sini," kata Maria.

Ahmad, warga Condet, menuturkan, dirinya pernah salah masuk ke salah satu warung di kawasan UKI yang dari luar tidak menampakkan tanda menjual makanan non-halal. Menurut Ahmad, penampilan warung tersebut tampak seperti warung tegal (warteg) biasa saja dan berbaur dengan warung makan lainnya. Barulah ketika ia masuk dan hendak memesan makanan, pelayan menanyakan identitas kemuslimannya. "Seharusnya warung tersebut lebih jelas mencantumkan, pelayannya bisa saja lalai menanyakan identitas sebelum pembeli memesan makanan," ucap Ahmad. c15/taq

Kamis, 15 Oktober 2009

Misteri Ayat Al Quran Dengan Gempa Padang

Padang (Ansor Online): Ketua Komisi Fatwa MUI Sumbar H Gusrizal Gazahar Lc menegaskan, umat jangan memaksakan kejadian yang terjadi di muka bumi Allah, dengan penomoran ayat dalam al Quran.

“Makna ayat dalam al Quran, sudah tentu benar. Akan tetapi, menghubungkan penomoran al Quran dengan peristiwa yang telah terjadi, merupakan sikap mengada-ada. Jika dibiarkan berlarut, akan berkembang ke hal yang tak baik dan bisa jatuh pada perbuatan yang dilarang oleh Allah. Jangan dipaksakan seperti itu,” ungkap Gusrizal.


Gusrizal dimintai tanggapannya, seputar banyaknya beredar pesan singkat (SMS) melalui telepon seluler yang isinya, mengait-ngaitkan waktu kejadian gempa Rabu (30/9) di Sumbar dan Kamis (1/10) di Jambi, dengan apa-apa yang telah dijelaskan Allah dalam al Quran.

“Tak bisa dipaksakan pemahaman antara waktu kejadian gempa, dengan penomoran surat dalam al Quran. Sebab, di masing-masing daerah, penomoran surat ini tak sama,” tegas Guzrizal

Gempa dengan kekuatan 7,9 SR di Sumbar, kejadiannya disebutkan sekitar pukul 17.16. Gempa susulannya terjadi pada pukul 17.58. Keesokan harinya, 1 Oktober, gempa berkekuatan 7 Skala Richter kembali menggoyang Jambi dan sekitarnya sekitar pukul 08.52.

“Penentuan waktu kejadian ini, apakah telah sama untuk semua lembaga. Kemudian, apa yang menjadi titik acuannya,” tegas Gusrizal

Jika kita simak waktu gempa ini, dia akan menuntun kita pada QS. Al Israa’ (17) ayat 16. Dalam ayat ini dijelaskan, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Kemudian, gempa susulan 17.58 bisa dikaitkan dengan QS. Al Israa’ ayat 58 yang artinya “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”

Selanjutnya, gempa susulan di Jambi pada 8.52 yang bisa dirujuk dengan QS. Al Anfaal: 52 yang maknanya; “(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”

Fakta ini, menurut Gusrizal, tak bisa dikaitkan semudah itu saja. Sebab, musibah-musibah yang dialami boleh jadi merupakan Ujian bagi keimanan dan kesabaran seseorang karena ini merupakan keniscayaan dalam hidup (QS Al-Ankabut: 2-3). Selain itu, boleh jadi juga bencana sebagai cara yang ditempuh Allah guna pengampunan dosa (QS Al Imran 140-141).

Bagi umat yang awam, sebut Gusrizal, tak dituntut untuk bisa memahami al Quran sendiri. Sebab, penjelasan al Quran itu dijelaskan oleh al Quran itu sendiri, melalui sunnah dan pemahaman melalui ulama. “Khusus bagi umat yang awam, silahkan bertanya ke ulama, jangan ditelan mentah-mentah apa yang beredar,” harapnya. (posmetro padang)